Oleh: kaktuspelangi | 18 Februari 2009

Apa Benar??

Apa benar kita lah yang paling benar???

Apa benar kitalah yang paling baik???

Apa benar solusimu adalah yang terbaik untukku??

Oleh: kaktuspelangi | 13 Februari 2009

La Haula wa la quwwata illa billah…

Teguhkan hamba ya Allah… teguhkan hamba dijalan  ini…

Telah kuremukkan hatiku sendiri untuk mendapat hidayah ini, semoga Kau beri ku kekuatan untuk tetap menjaganya. SesungguhnyaEngkaulah sebaik-baik penjaga.

La haula wa la quwwata illa billah…

Betapa benar jalan ini penuh dengan kerikil tajam, duri, serakan kaca ya Allah… maka kuatkanlah hati hamba, kuatkan raga hamba, agar kebal terhadap rasa sakit ini…

Oleh: kaktuspelangi | 11 Februari 2009

atas nama sebuah kenangan

Mungkin cuma butuh satu menit untuk jatuh cinta padamu

tapi butuh puluhan tahun untuk melupakanmu

tapi tak mengapa,

karna tak dapat kupungkiri

hatiku pernah sangat hangat karna perhatianmu

bunga-bunga jiwaku pernah bermekaran sepanjang musim karna tiupan kepedulianmu

Melupakanmu juga sebuah anugrah

karna butuh proses begitu indah

tapi aku tak pernah manyangka

bahwa aku bisa melupakanmu

Dan…

Menjadikanmu kenangan, juga bagian dari cintaku padamu…


Tulisan ini aku kirimkan lewat sebuah short message service (sms) kepada seorang sahabatku yang bercerita bahwa dirinya sedang patah hati saat itu. Sungguh… aku hampir tak mengenali pribadinya lagi waktu kejadian ini… Dia yang dulunya tegar, cuek tapi penuh kesetiakawanan, berubah jadi cengeng, sensitif dan suka menyendiri.

Begitu butakah cinta?? hmmm… How about u???

Oleh: kaktuspelangi | 29 Januari 2009

Anak Tetangga Kosku

Sepertiu biasa, hari ini aku bangun jam 5 pagi. Brrr…masih dingin sodara-sodara… Kulirik kalender waktu shalat, hmmm…pagi ini subuhnya jam 5.35wib. Aku berniat beranjak dari kasurku yang nyaman, hendak kekamar mandi, mengambil air wudhu. Tapi….’rrrrtttt…rrrrrtttt…rrrttt’ hapeku bergetar-getar menandakan ad panggilan masuk. Oh.. temanku yang ada dibelahan tengah indonesia. Pantes…kirain sapa, pagi2 buta gini dah telpon…disana dah jam enam, mungkin dah terbit matahari, hehehe…

Kuangkat telpon “assalamu’alaykum…”, bla…bla..bla… tak terasa obrolanpun mengantar kami sampai adzan subuh berkumandang. Aku minta izin untuk shalat shubuh. Diapun menyudahi telponnya.

Wudhu dan shalat, kemudian dilanjutkan dengan tilawah. Hmmm…masih gelap diluar, muroja’ah dulu lah…

Jam menunjukkan angka 6.30 saat aku beranjak dari kamar dan keluar rumah. “Mau kemana?”, tanya ibu kos. “Manasin motor, sekalian manasin badan bu”, jawabku sembari cengengesan. Kustarter motorku kemudian aku lari2 kecil didepan kosku.

Banyak anak kecil yang sudah memakai seragam sekolah mereka. Wah…wah…matahari belum juga menampakkan diri, tapi mereka telah rapi. Siap menuntut ilmu, subhanallah….decakku dalam hati. Perasaan, waktu aku seusia mereka, kalo matahari belum muncul, akupun belum mau mandi.

Dari sekian anak kecl tadi, pandanganku tak lepas dari seorang gadis kecil dengan seragam biru-putih dan jilbab yang masih ‘asal’ nyangkut, memegang sebuah sapu lidi bergagang. Disapunya halaman rumahnya yang berumput itu dengan pelan. Teliti sekali ia. Diulanginya sapuannya jika mendapati beberapa helai daun yang ‘ngeyel’ tak mau pergi dari halamannya. Subhanallah…tak ada gerutu yang keluar dari bibir mungilnya, padahal ia masihlah kecil untuk menyelesaikan pekerjaan itu sendirian dipagi buta begini.

Beberapa saudara laki-lakinya tak sabar melihatnya ‘anggun’ sekali menyapu. “Ayo…cepetan…”, diapun tersentak, rambut lurusny nan lembut yang memang masih tergerai melebihi jilbab yang  ‘asal’ nyangkut tadi sedikit bergoyang seiring sentakan kepalanya. Subhanallah…cantik sekali ia. Diteruskannya pekerjaannya dengan sedikit lebih cekatan dari sebelumnya.

Selang beberapa menit kemudian saudara-saudaranya telah melewatiku, menuju kesekolah mereka masing-masing. Dia masih bergelut dengan daun-daun yang berguguran dihalamannya itu. Gak ada 5 menit, dia telah berlari-lari kecil melewatiku dan memanggil-manggil saudara-saudaranya. “eh..tunggu…tunggu lah…” sembari memasukkan rambutnya kedalam jilbab dan membetulkan tasnya di bahu.

Hmmm… pagi ini ada aura rindu pada rumahku melihat si ‘gadis’ menyapu halamannya, dan segudang sesal karna dulu aku sering menggerutu melakukan pekerjaan itu. Ya…menyapu halaman. Suatu saat ingin kutanamkan keikhlasan itu pada anak-anakku untuk setiap pekerjaan yang menjadi tanggung kawab mereka.

Alhamdulillah… terimakasih ya Allah telah kau cerahkan hatiku hari ini dengan kehadiran gadis kecil tadi pagi. Esok, aku akan menyapanya sambil berlari-lari kecil. Insya Allah…

Oleh: kaktuspelangi | 22 Januari 2009

happy ending -sementara-

Hari ini agak gak  pede, pasalnya dah item banget sekarang… Wah… udara pantai emang bikin item ternyata. SPF 24 pun gak cukup membantu untuk melindungi kulit dari ganasnya sengatan matahari daerah pantai. 

Btw ngomongin hal lain ah… i’m happy now… Ibu dah gak mendesakku untuk menikah cepet2. Beberapa waktu lalu beliau sempat protes dengan keputusanku untuk gak cepet2 nikah. Bahkan beliau sampe sakit-sakitan gara-gara memikarkan anak gadisnya yang tak kunjung menikah diusianya yang sudah 23 tahun. Bayangin… 23 tahun, bagiku si  masih, bukan  sudah :) .

Alhamdulillah… sekarang ibu sudah berbesar hati. Sudah mau berkompromi dengan keputusanku. Hmmm… ibu… engkau memang ibu paling hebat sedunia. Yakinlah bu…selama ini ananda sudah berusaha memenuhi keinginanmu itu, tapi mungkin menurutNYA sekarang belum waktunya bu…

Bu… makasih ya untuk kesabaranmu…

Sekali lagi telah kugores hatimu dengan masalah ini bu…

Ananda berdosa bu…

Suatu saat akan Ananda tebus bu…, insya Allah…

Oleh: kaktuspelangi | 22 Nopember 2008

Kualifikasi Itu…(penting katanya???)

Adalah suatu hal yang biasa dan lumrah jika seorang anak perempuan atau laki-laki yang belum menikah -jomblo lah istilahnya- ditanya “Kapan merit?”, apalagi jika sang penanya ini tau sasaran pertanyaannya (jombloers) tadi udah punya pekerjaan tetap. Maka pertanyaan yang selanjutnya -yang lebih bernada membujuk dan ‘ngompor-ngompori’- akan terus diajukan. Biasanya akan terjadi dialog seperti ini…

Penanya -yang notabene telah menikah- (P) : “kapan merit?”

Jawaban Jombloers (J1) : “wah… belum ada yang diajakin nikah ni…”

P : ” mau dicariin? kriterianya seperti apa?”

Atau jika jawaban sang jombloers (J2) : “wah… belum terfikir om/tante/paklik/bulik/pakde/bude/mbak/mas…”

maka dengan gesit akjan dijawab

P : “ya harus dipikirin tu,.. kan masa depan? Atau mau dicariin?? mau yang kayak apa? kriteriamu gimana?”

dan masih banyak lagi jawaban-jawaban yang dikemukakan sang jombloers yang akhirnya selalu dipatahkan oleh sang penanya dengan pertanyaan2 lain tentang kriteria, dsb.

Sebenarnya gak ada salahnya bertanya tentang kapan seseorang akan menikah atau bagaimana kriteria yang diinginkan seorang jombloers untuk calon pasangannya. Tapi akan sangat tidak nyaman jika sang jombloers yang notabene memang ingin segera menyudahi masa lajangnya dengan semangat berkobar2 menjabarkan apa yang menjadi kriteria yang diinginkannya ada pada calon pasangannya, tapi hanya ditanggapi dengan setengah hati oleh sang penanya.

Tapi itu masih mending, setidaknya setelah itu sang jombloers gak akan berharap2 cemas soal maksud dan tujuan sang menanyakan hal itu. Jika sang penanya terlihat serius tapi ternyata gak serius, itu yang akan membuat pengharapan sang jombloers. Padahal gak jarang, pertanyaan tadi cuma gurauan. Wadow…!!! begini ni yang bikin berabe….

Suatu hari teman (T) menghadiri resepsi pernikahan seorang teman SMAnya. Kemudian disitu T bertemu dengan seorang kakak kelasnya (K) di SMA. Terjadilah percakapan seperti diatas. Ringkasnya si T menjawab pertanyaan kriteria dengan jawaban yang asal2an, “saya gak macem2 kok kriterianya”, yang penting orangnya baik”.

K : “gitu ya? yang lain?”

T : “gak ada”

K : “kalo gitu ma kakek2 sebelah rumahku mau dong?? Beliau juga baik kok…”

T(setengah dongkol) : “ya janganlah mbak…”

K (sambil senyum2) : “katanya yang baik? beliau juga baik loh… sering ngasih permen ke anak2 kalo sore2 gitu”

T : “yang masih seumuran to mbak…”

K : “bilang dunk… tadi yang penting baik…Emm…(sambil mikir2) ma Johan mau? itu lho yang pake baju ijo disebelah pengantin pria…”

T : “Hah??? yang itu??? ya enggak lah mbak…kan itu bukan cowok tulen??? mbak ni gimana c???”

K : “tadi kan gak bilang maunya ma yang cowok tulen, hehehehehe…”

Yah…mungkin benar kata sebagian orang. Tapi suatu waktu ada teman yang menyebutkan kriteria yang begitu detil, kemudian kena semprot ma sang penanya, katanya “jangan kasih kriteria macem2 dong…, kalo ada orang yang sesuai kriteriamu itu aku juga mau punya istri kedua”, huh!!! jadi maunya gimana???

Kayaknya kalo besok2 ditanyain lagi mending tanya dulu, mau jawaban simpel atau jawaban detil??? hehehehehe….

Oleh: kaktuspelangi | 24 Oktober 2008

Sepi…Sendiri…Nyeri…

Assalamu’alaikum takdirku…

Ijinkan aku bercerita kepadamu hari ini

Atas sepi yang selalu menggelayuti

Atas nyeri yang tak terperi

Atas gundah yang tak bertepi

 

Takdirku….

Izinkan aku mengurai lembar-lembar kehidupanku beberapa waktu ini

Sepi rasanya Takdirku. Dua hari lagi aku akan melangkahkan kaki, menjejak bumi baru. Meretas asa baru. Tapi Takdirku…aku akan sendirian menjejak bumi baru itu. Tanpa kawan, tanpa saudara. Bahkan seorang pengantar pun Takdirku… Maukah kau mengantarku??walau hanya dengan tatapan matamu?? Walau hanya lewat doa-doamu??

Takdirku… rasanya sepi ini bergulung-gulung dalam dada. Nyeri atas kesepian ini menutup semua permukaan hati dan jiwaku, hingga hanya mendung yang tercipta… Kesendirian ini memperlebar ruang hampa kalbuku… Kuadukan padaNYA… Kuminta DIA menemaniku dalam setiap helaan nafasku… Kuminta DIA menjagaku disetiap detik yang kulalui… Doakan aku takdirku…Doakan aku bisa melalui ini sendirian… Doakan aku selamat sampai tujuan

Takdirku….

Perasaan tercampakkan itu menghempas-hempas dadaku. Menggedor-gedor relung hatiku. Lalu menimbulkan tanya dalam benakku, adakah aku tak pernah mereka cintai?? Adakah aku tak pernah menyertai mereka dalam duka, hingga mereka pun tak sudi menemaniku dalam sepi??

Takdirku….

Beri aku dukungan. Biarkan sejenak semua ini kuadukan padamu setelah pengaduan panjangku padaNYA, walau sejatinya pun kau belum mampu mendengarku, karena keberadaanmu masih abstrak bagiku…

Takdirku….

Kemarilah… Ulurkan tanganmu… Biar kusambut dan kita akan berjalan berdua menyebrangi lautan hampa. Menuju semua mimpi kita…

Oleh: kaktuspelangi | 19 September 2008

Aku Gak Suka

Aku gak suka kata-kata perpisahan

Aku gak suka perjalanan jauh dengan bis, karena mengingatkanku pada perpisahan

Aku gak suka berpisah dengan orang yang berarti dalam hidupku

Aku gak suka diingatkan pada sebuah perpisahan

Aku gak suka memikirkan perpisahan

Aku gak suka!!!

Pokoe aku gak suka perpisahan!!!

Aku gak mau dipisahkan!!!

Tapi kenapa selalu dibilang “ada pertemuan, ada perpisahan”?

uhhhhhfff!!!!

 

Diatas adalah tulisan orang lagi error!!!

Oleh: kaktuspelangi | 17 September 2008

Romadhon Bagiku

Romadhon bagiku adalah…

Saatnya lebih dekat denganNYA

saatnya meraih cintaNYA

Saatnya meminta maghfirohNYA

Saatnya meminta dengan segala macam pinta

 

Romadhon bagiku adalah…

Qiyamul lail setiap hari

Dhuha setiap hari

Hafalan setiap hari

Menjaga wudhu setiap saat

Dzikrul maut setiap saat

 

Romadhon bagiku adalah…

Saatnya membagi suka dengan kaum papa

Saatnya merasakan laparnya kaum papa

Saatnya lebih peka

Saatnya bersyukur atas nikmatNYA

 

Romadhon bagiku adalah…

Kesempatan riyadhoh setiap hari, menjelang matahari terbit

kesempatan menghisab diri setiap hari sebelum tidur

kesempatan mandi 2kali sehari tepat wakatu, gak ada lagi mandi malam, setelah magrib:)

kesempatan menyampaikan kebenaran&kebaikan tanpa susah payah

kesempatan memperdalam kemampuan masak, karna kantor pulang 1 jam lebih cepat

 

Hmmm…Pokoe romadhon begitu banyak membawa berkah dalam hidupku…

Semoga akan tetap istiqomah sampai berakhirnya

Oleh: kaktuspelangi | 17 September 2008

Kuberikan Seribu Maaf Untukmu Saudaraku

Tulisan ini khusus saya tujukan untuk seorang saudara, yang sekitar sebulan lalu mengirimkan sms

“Assalaamu’alaikum…Bolehkah kupinta seribu maaf lagi…(…)”

Dari:+6281726****

Maaf buat Saudara saya ini, karena baru bisa posting tulisan ini sekarang.

Kenapa saya tak langsung membalasnya lewat sms? Kenapa tak langsung saya posting?

Hmmm…karena saya manusia biasa, perih, luka, goresan sekecil apapun akan tetap ada bekasnya dihati saya. Karena itu, saya meyakinkan diri saya untuk benar-benar tulus mengulurkan seribu maaf ini. Dan waktunya adalah SEKARANG. Afwan… Sungguh, tulisan ini sudah saya tulis draft-nya sejak 20082008.

 

Mula-mula kukira, kegundahan dan kegelisahan ini hanya milikku

Dulu kukira, keraguan ini hanya hakku

Tapi ternyata bukan

 

Kegundahan ini beralasan

Kegelisahan ini bukan hanya milikku

Keraguan ini bukan hanya hakku

Ya…semua ini juga milik saudaraku, hak saudaraku

 

Yang kukira hakku saat ini adalah persangkaan yang baik padaMU kekasihku

Yang harusnya milikku saat ini adalah kelapangan dan kesabaran

Sebab DIA Yang Maha Menggenggam sedang menunjukkan cintaNYA padaku

 

Saudaraku…mari berlomba dalam kebaikan

Seribu maaf telah kau pinta siang ini

Maka apalah hakku tidak memberikannya padamu

Sungguh seribu maaf itu hakmu

Telah kuberikan seribu maaf itu, Insya Alloh…

 

Mari saudaraku, mari sama-sama melapangkan hati

Walau sendirinya pun, masih tersisa puing-puing dihati

Tapi aku yakin, puing itu akan segera melebur kembali

Karena memang hati diciptakan dari darah,

agar saat tergores atau terluka, mudah kembalinya…

 

Barakallahu li wa lakum, amin…

Tulisan Sebelumnya »

Kategori