Tepat tiga minggu saya berada disebuah kota yang berada diujung pulau Sumatera, Banda Aceh tepatnya. Hm…Banda Aceh…sebuah kota kecil untuk ukuran ibu kota sebuah propinsi-menurut saya-. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Aceh. Lumayan susah untuk dikuasai, apalagi saya, yang berasal dari pulau jawa, dan sudah hampir 23 tahun hidup saya habiskan di pulau Jawa.
Saya datang ke Banda Aceh dengan perasaan was-was, karena tak ada satupun keluarga. Saya hanya mengandalkan keberadaan kakak-kakak tingkat (kalau disini nyebutnya kakak leting) saya yang sudah lebih dahulu bekerja disini. Dan ternyata, dari pengalaman saya datang ke Banda pertama kali, orang-orang yang saya kenal sangat ramah.
Dimulai dari temen-teman kantor, teman-teman kos yang baru, bahkan pemilik kos dimana saya tinggal. Kaum wanita Aceh, khususnya Banda Aceh, yang saya temui rata-rata cantik, jadi minder…hehehehe… Mereka rata-rata mempunyai wajah semi Arab dengan kulit putih bening. Kalo untuk kaum Adam, mereka juga punya wajah sedikit Arab, dengan kulit gelap.
Di Banda Aceh ini banyak sekali kafe-kafe (warung tenda menurut saya) yang berjejer di pinggir jalan besar. Kafe-kafe ini menjajakan berbagai makanan dan minuman, dari mulai yang khas Aceh sampai luar negri. Namun Banda Aceh lebih terkenal lagi dengan warung kopi-nya. Banyak sekali warung kopi disini, bahkan bisa dikatakan, tiap 20 rumah tempat tinggal terdapat 1 warung kopi. Karena memang sebagian besar warga Aceh suka mengkonsumsi kopi. Aceh juga terkenal dengan produk kopinya yang telah diakui kualitasnya, yaitu kopi Gayo.
Saat malam menjelang, Banda Aceh akan lebih terlihat geliatnya dengan banyaknya warung-warung tenda yang berjajar disepanjang jalan besar. Warung-warung tenda ini menyajikan makanan-makanan siap saji seperti burger, roti sosis dan makanan kecil seperti kentang goreng, dan sebagainya.
Untuk tempat wisata, di Banda Aceh saya baru mengunjungi panta-pantainya, ada tiga pantai yang sudah saya kunjungi, yakni Lokhnga, Ulelee dan Ujong Batee. Semuanya indah, karena masih bersih. Perjalanan menuju pantai, saya melihat tanda-tanda kerusakan yang ditinggalkan tsunami pada 2004 silam. Dalam hati masi berdenyar nyeri, waktu melihat pemakaman umum yang berada di Ulelee. Begitu dahsyat kerusakan yang ditimbulkan tsunami ini, baik secara material maupun psikologis bagi masyarakat Aceh.