Oleh: kaktuspelangi | 22 November 2008

Kualifikasi Itu…(penting katanya???)

Adalah suatu hal yang biasa dan lumrah jika seorang anak perempuan atau laki-laki yang belum menikah -jomblo lah istilahnya- ditanya “Kapan merit?”, apalagi jika sang penanya ini tau sasaran pertanyaannya (jombloers) tadi udah punya pekerjaan tetap. Maka pertanyaan yang selanjutnya -yang lebih bernada membujuk dan ‘ngompor-ngompori’- akan terus diajukan. Biasanya akan terjadi dialog seperti ini…

Penanya -yang notabene telah menikah- (P) : “kapan merit?”

Jawaban Jombloers (J1) : “wah… belum ada yang diajakin nikah ni…”

P : ” mau dicariin? kriterianya seperti apa?”

Atau jika jawaban sang jombloers (J2) : “wah… belum terfikir om/tante/paklik/bulik/pakde/bude/mbak/mas…”

maka dengan gesit akjan dijawab

P : “ya harus dipikirin tu,.. kan masa depan? Atau mau dicariin?? mau yang kayak apa? kriteriamu gimana?”

dan masih banyak lagi jawaban-jawaban yang dikemukakan sang jombloers yang akhirnya selalu dipatahkan oleh sang penanya dengan pertanyaan2 lain tentang kriteria, dsb.

Sebenarnya gak ada salahnya bertanya tentang kapan seseorang akan menikah atau bagaimana kriteria yang diinginkan seorang jombloers untuk calon pasangannya. Tapi akan sangat tidak nyaman jika sang jombloers yang notabene memang ingin segera menyudahi masa lajangnya dengan semangat berkobar2 menjabarkan apa yang menjadi kriteria yang diinginkannya ada pada calon pasangannya, tapi hanya ditanggapi dengan setengah hati oleh sang penanya.

Tapi itu masih mending, setidaknya setelah itu sang jombloers gak akan berharap2 cemas soal maksud dan tujuan sang menanyakan hal itu. Jika sang penanya terlihat serius tapi ternyata gak serius, itu yang akan membuat pengharapan sang jombloers. Padahal gak jarang, pertanyaan tadi cuma gurauan. Wadow…!!! begini ni yang bikin berabe….

Suatu hari teman (T) menghadiri resepsi pernikahan seorang teman SMAnya. Kemudian disitu T bertemu dengan seorang kakak kelasnya (K) di SMA. Terjadilah percakapan seperti diatas. Ringkasnya si T menjawab pertanyaan kriteria dengan jawaban yang asal2an, “saya gak macem2 kok kriterianya”, yang penting orangnya baik”.

K : “gitu ya? yang lain?”

T : “gak ada”

K : “kalo gitu ma kakek2 sebelah rumahku mau dong?? Beliau juga baik kok…”

T(setengah dongkol) : “ya janganlah mbak…”

K (sambil senyum2) : “katanya yang baik? beliau juga baik loh… sering ngasih permen ke anak2 kalo sore2 gitu”

T : “yang masih seumuran to mbak…”

K : “bilang dunk… tadi yang penting baik…Emm…(sambil mikir2) ma Johan mau? itu lho yang pake baju ijo disebelah pengantin pria…”

T : “Hah??? yang itu??? ya enggak lah mbak…kan itu bukan cowok tulen??? mbak ni gimana c???”

K : “tadi kan gak bilang maunya ma yang cowok tulen, hehehehehe…”

Yah…mungkin benar kata sebagian orang. Tapi suatu waktu ada teman yang menyebutkan kriteria yang begitu detil, kemudian kena semprot ma sang penanya, katanya “jangan kasih kriteria macem2 dong…, kalo ada orang yang sesuai kriteriamu itu aku juga mau punya istri kedua”, huh!!! jadi maunya gimana???

Kayaknya kalo besok2 ditanyain lagi mending tanya dulu, mau jawaban simpel atau jawaban detil??? hehehehehe….


Tanggapan

  1. jd inget wkt blm menikah…
    ktk ditanya gt, aq lebih sering jawab…
    “mohon do’anya, smg dipermudah Allah unt sgr bertemu” ato “mohon doanya, smg dapat yang terbaik, diwkt yang terbaik”, dll, trus sambil senyam-senyum :)

    sabar yaa ukhti…
    semoga Allah memberikan yang terbaik padamu…

    best 4 u…

    love u …

    hope Allah bless u & always with u…


Beri tanggapan

Your response:

Kategori