Oleh: kaktuspelangi | 29 Januari 2009

Anak Tetangga Kosku

Sepertiu biasa, hari ini aku bangun jam 5 pagi. Brrr…masih dingin sodara-sodara… Kulirik kalender waktu shalat, hmmm…pagi ini subuhnya jam 5.35wib. Aku berniat beranjak dari kasurku yang nyaman, hendak kekamar mandi, mengambil air wudhu. Tapi….’rrrrtttt…rrrrrtttt…rrrttt’ hapeku bergetar-getar menandakan ad panggilan masuk. Oh.. temanku yang ada dibelahan tengah indonesia. Pantes…kirain sapa, pagi2 buta gini dah telpon…disana dah jam enam, mungkin dah terbit matahari, hehehe…

Kuangkat telpon “assalamu’alaykum…”, bla…bla..bla… tak terasa obrolanpun mengantar kami sampai adzan subuh berkumandang. Aku minta izin untuk shalat shubuh. Diapun menyudahi telponnya.

Wudhu dan shalat, kemudian dilanjutkan dengan tilawah. Hmmm…masih gelap diluar, muroja’ah dulu lah…

Jam menunjukkan angka 6.30 saat aku beranjak dari kamar dan keluar rumah. “Mau kemana?”, tanya ibu kos. “Manasin motor, sekalian manasin badan bu”, jawabku sembari cengengesan. Kustarter motorku kemudian aku lari2 kecil didepan kosku.

Banyak anak kecil yang sudah memakai seragam sekolah mereka. Wah…wah…matahari belum juga menampakkan diri, tapi mereka telah rapi. Siap menuntut ilmu, subhanallah….decakku dalam hati. Perasaan, waktu aku seusia mereka, kalo matahari belum muncul, akupun belum mau mandi.

Dari sekian anak kecl tadi, pandanganku tak lepas dari seorang gadis kecil dengan seragam biru-putih dan jilbab yang masih ‘asal’ nyangkut, memegang sebuah sapu lidi bergagang. Disapunya halaman rumahnya yang berumput itu dengan pelan. Teliti sekali ia. Diulanginya sapuannya jika mendapati beberapa helai daun yang ‘ngeyel’ tak mau pergi dari halamannya. Subhanallah…tak ada gerutu yang keluar dari bibir mungilnya, padahal ia masihlah kecil untuk menyelesaikan pekerjaan itu sendirian dipagi buta begini.

Beberapa saudara laki-lakinya tak sabar melihatnya ‘anggun’ sekali menyapu. “Ayo…cepetan…”, diapun tersentak, rambut lurusny nan lembut yang memang masih tergerai melebihi jilbab yang  ‘asal’ nyangkut tadi sedikit bergoyang seiring sentakan kepalanya. Subhanallah…cantik sekali ia. Diteruskannya pekerjaannya dengan sedikit lebih cekatan dari sebelumnya.

Selang beberapa menit kemudian saudara-saudaranya telah melewatiku, menuju kesekolah mereka masing-masing. Dia masih bergelut dengan daun-daun yang berguguran dihalamannya itu. Gak ada 5 menit, dia telah berlari-lari kecil melewatiku dan memanggil-manggil saudara-saudaranya. “eh..tunggu…tunggu lah…” sembari memasukkan rambutnya kedalam jilbab dan membetulkan tasnya di bahu.

Hmmm… pagi ini ada aura rindu pada rumahku melihat si ‘gadis’ menyapu halamannya, dan segudang sesal karna dulu aku sering menggerutu melakukan pekerjaan itu. Ya…menyapu halaman. Suatu saat ingin kutanamkan keikhlasan itu pada anak-anakku untuk setiap pekerjaan yang menjadi tanggung kawab mereka.

Alhamdulillah… terimakasih ya Allah telah kau cerahkan hatiku hari ini dengan kehadiran gadis kecil tadi pagi. Esok, aku akan menyapanya sambil berlari-lari kecil. Insya Allah…


Beri tanggapan

Your response:

Kategori