Oleh: kaktuspelangi | 16 September 2008

Setelah Ini Akan Kemana Lagi Aku?

Jakarta sudah kutinggali selama kurang lebih empat setengah tahun, kemudian Alloh memberiku kesempatan untuk meninggali dan mengenal Banda Aceh, Insya Alloh selama enam bulan. Hmmm…manis pahitnya merantau disini sudah jadi santapan ‘nikmat’ bagiku. Kini…aku harus kembali bersiap-siap meninggalkannya, menuju tempat baru lagi. Hmmm…Sabang…

Sabang…tak pernah terbayang, tak pernah terlintas. Sedih atau seneng? Bagiku, disetiap tempat dan setiap keadaan “SELALU ADA YANG BISA DISYUKURI”, semoga disana nantinya, aku juga bisa mensyukurinya.

Sekilas terbayang, Sabang adalah pulau kecil diujung barat Indonesia. Hanya dua kecamatan luasnya. Tapi, katanya disana mobil mewah second dari singapore dapat dibeli dengan murah. Cukup kuatkah aku yang notabene sangat menyukai keramaian akan berdiam disanan. Berapa lama? Hanya Alloh yang tau.

Lantas dari Sabang mau pindah kemana lagi? Entahlah, Alloh ingin menunjukkan betapa luas bumiNya ini kepadaku. Semoga aku cukup kuat aku menjalaninya…amin…

Oleh: kaktuspelangi | 5 September 2008

Aku Kapan??

Hari-hari belakangan aku disibukkan dengan pikiranku sendiri. Tentang apa?? tentang apalagi kalo bukan tentang ‘menyempurnakan separuh agama’? Apalagi ditambah dengan nasyid-nasyid pernikahan yang diputar di radio selaut (radio muslim Banda Aceh). Mungkin kebetulan, kebetulan pas aku dengerin pas muternya nasyid pernikahan, hiks;-(…

Apalagi….

Seorang teman dekatku akan segera melaksanakan akad nikah awal bulan depan. Ya syawal, sungguh aku senang sekali. Akhirnya salah satu dari kami akan mengakhiri masa jomblo separuh agama kami, hehehe… Aku melihat tawa dan tangisnya dalam mempersiapkan hari yang ditunggu-tunggu itu. Aku hanya bisa menjadi penonton dalam hal ini. Disela-sela kesibukan temanku ini, terbersit dalam hatiku, lalu aku kapan?

ya…akhir-akhir ini kata-kata ini selalu mengusikku. Kira-kira aku kapan ya? Kenapa aku belum juga ya? Siapa ya takdirku nantinya? Berbagai pikiran positif aku jejalkan dalam otakku untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi dan agar aku tidak su’udhon padaNya.

Mungkin aku belum dewasa ya,… Atau mungkin belum siap menjadi seorang penjaga harta & kehormatan suami. dan masih banyak lagi, kemungkinan-kemungkinan yang kubuat-buat sendiri untuk menghilangkan hal ini dari pikiranku.

Lantas hilangkah pikiran-pikiran itu? ternyata TIDAK. aku makin tersiksa, setelah menghubungi beberapa teman, dan pertanyaan mereka sama. Kapan? Kan dah lulus kuliah, dah kerja, PNS, nunggu apalagi??? Hmmm…tambah nyesek rasanya, tapi aku gak bisa jawab apa-apa jika ditanya soal ini. Biasanya kujawab “nunggu ada yang datang lah…”, atau “mau sih, tapi ma siapa?”, atau juga “doain aja..” sambil mesem kecut tentunya:)…

Wahai teman-temanku, saudaraku, dan orang-orang disekitarku, tak perlu ditanya tentang kapan aku akan menyempurnakan separuh agamaku ini, aku sendiri juga selalu bertanya dalam hati tentang hal ini. Namun mungkin memang belum saatnya. Seorang teman mengatakan, “akan ada orang yang tepat, diwaktu yang tepat untukmu sahabat”, hmmm…semoga…

Oleh: kaktuspelangi | 3 September 2008

Rabb…Kapan Pergumulan Dalam Hati Ini Berpenghujung?

Rabb…ingin kukeluarkan semua yang ada dalam hatiku hari ini

Ingin kumendengar suara takdirku membisikkan…”sabar…”

Atau sekedar kerlingan mata yang menandakan ‘dia ada&suatu saat pasti hadir dalam hidupku’

 

Rabb…bukankah dia takdirku??

Siluetnya sempat hadir dalam hari-hariku

Saat dia menyatakan ingin mengenalku

Timbul tenggelam dari hari kehari

Kabur dan nyata yang tak pasti

Rabb…

Ternyata kabur itu ragu

Darinya, dariku…

Maka, mungkin inilah jawabMU untuk doa-doa yang terlantun syahdu didupertigamalamku

 

Lantas mengapa hati tak mau berdamai…

Atas semua asa yang telah tersemai??

Seolah siluet itu melambai

 

Rabb…

Lalu kapan ’sesuatu yang lebih baik’ itu menggantikan?

Memberi obat pada luka yang tak terperikan?

 

Rabb…

Pergumulan ini tak pantas kuadukan…

Namun aku hanya bisa menghiba padaMu

Gantikan ia, sesuai janjiMU yang selalu dan selalu aku dengungkan

Amin…

Oleh: kaktuspelangi | 2 September 2008

MEGANG

Kembali aku ingin bercerita tentang Aceh.

Kunikmati hari-hariku di Aceh ini, karena aku yakin suatu saat aku akan meninggalkannya, jadi aku ingin belajar banyak disini. Aku ingin tau banyak apa-apa yang ada disini, di Aceh ini.

Satu tradisi baru aku pelajari menjelang Romadhon ini. Namanya ‘megang’, aku suka bercanda dengan teman kosku jika ditanya ‘dek, besok megang nggak?’, temenku akan langsung memegang bahuku dan berkata ‘ni saya lagi megang’, hahahahaha… Pertanyaan ini tentu hanya ditujukan pada kami, para new comers di Aceh, untuk orang yang sudah lama tinggal di Aceh, pasti udah tau apa itu megang.

Megang itu istilah untuk menyambut datangnya romadhon. Hari megang ini jatuh pas H-1 Romadhon. Setiap rumah tangga memasak lebih banyak dari biasanya pada hari megang ini. Macam-macam masakan yang dibuat, tapi lebih banyak rumah tangga membuat olahan daging pada hari megang, untuk kemudian dimakan bersama. Bisa juga mengundang orang lain untuk makan bersama dirumah. Kami sebagai perantau tentu saja berperan sebagai orang yang diundang, bukan yang mengundang, karena kami juga kebetulan hanya anak kos, hehehehehehe…

Karena tradisi ini, biasanya harga daging sapi jadi mahal sebelum romadhon, bahkan untuk tahun ini mencapai Rp.120.000,-/kg. Wowwww…!!harga yang fantastis tentu saja, mengingat daging yang diperjualbelikan adalah daging lokal. Konon katanya harga daging di Aceh pada hari megang ini adalah harga daging termahal didunia, hmmmm…ck…ck…ck… Selain berimbas pada harga daging, tradisi ini juga berimbas pada harga bahan makanan lain. Seorang teman berkata ‘bahkan bayam yang biasanya cuma Rp.2000,-/ikat menjadi Rp.5000,-/ikat pada saat megang’…hmmmmmmmmmmm…

Tradisi ini dilakukan oleh semua kalangan masyarakat di Aceh, tidak hanya kalangan ‘menengah keatas’. Jadi bisa dibayangkan perjuangan kalangan ‘menengah kebawah’ untuk mendapatkan daging pada hari megang itu. Tapi yang namanya tradisi, ada atau gak ada dana, tetep harus diada-adain, hehehehe… Untuk yang bener-bener gak mampu menjangkau harga daging pada hari itu, biasanya mereka memilih untuk menyiasatinya dengan memasak lebih banyak dari biasanya.

Namun apapun dampak dari tradisi ini, patut dihargai bahwa inti dari tradisi ini adalah kesenangan dan kegembiraan masyarakat dalam menyambut romadhon. Mungkin tiap daerah punya tradisi dan kebiasaan yang berbeda dalam menyambut Romadhon. Namun alangkah baiknya, jika kegembiraan ini bukan hanya bersifat fisik dan hura-hura, tapi lebih pada kegembiraan hakiki. Kegembiraan karena kita berjumpa bulan yang penuh rohmah, maghfiroh. Bukan hanya sekedar ‘ancang-ancang’ karena besoknya puasa, harus menahan makan minum dari terbit fajar hingga terbenam matahari maka puas-puasin makan dulu. Semoga kita termasuk orang yang bijak dalam mengikuti tradisi.

Oleh: kaktuspelangi | 28 Agustus 2008

Doa untuk Kekasih…

untuk seseorang yang telah mengisi ruang hati yg dulu hampa…

 

  

 

Allah yang Maha Pemurah…

 

Terima kasih Engkau telah menciptakan dia
dan mempertemukan saya dengannya.
Saya datang bersujud dihadapanMU…
Sucikan hati saya ya Allah, sehingga dapat melaksanakan kehendak dan rencanaMU dalam hidup saya.
Ya Allah, jika saya bukan pemilik tulang rusuknya, janganlah biarkan saya merindukan kehadirannya…
janganlah biarkan saya, melabuhkan hati saya dihatinya..
kikislah pesonanya dari pelupuk mata saya dan jauhkan dia dari relung hati saya…

 

Gantilah damba kerinduan dan cinta yang bersemayam didada ini dengan kasih dari dan padaMU yang tulus, murni…
dan tolonglah saya agar dapat mengasihinya sebagai sahabat.

 

Tetapi jika Engkau ciptakan dia untuk saya…
ya Allah tolong satukan hati kami…
bantulah saya untuk mencintai, mengerti dan menerima dia seutuhnya…
berikan saya kesabaran, ketekunan dan kesungguhan untuk memenangkan hatinya…

Ridhoi dia, agar dia juga mencintai, mengerti dan mau menerima saya dengan segala kelebihan dan kekurangan saya
sebagaimana telah Engkau ciptakan…

Yakinkanlah dia bahwa saya sungguh – sungguh mencintai dan rela membagi suka dan duka saya dengan dia…

Ya Allah Maha Pengasih, dengarkanlah doa saya ini…
lepaskanlah saya dari keraguan ini menurut kasih dan kehendakMU…

Allah yang Maha kekal, saya mengerti bahwa Engkau senantiasa memberikan yang terbaik untuk saya…
luka dan keraguan yang saya alami, pasti ada hikmahnya.

Pergumulan ini mengajarkan saya untuk hidup makin dekat kepadaMU untuk lebih peka terhadap suaraMU yang membimbing saya menuju terangMU…

Ajarkan saya untuk tetap setia dan sabar menanti tibanya waktu yang telah Engkau tentukan….

Jadikanlah kehendakMU dan bukan kehendak saya yang terjadi dalam setiap bagian hidup saya…

Ya Allah, semoga Engkau mendengarkan dan mengabulkan permohonanku.

 

 

 

 

 

Dikirim lewat email oleh seorang saudara pada akhir Juli 2008

Trimakasih saudaraku, afwan jika asamu harus terenggut

Oleh: kaktuspelangi | 25 Juli 2008

Catatan Si Penunggu

Takdirku…izinkan aku memanggilmu begitu, biarkan aku menyebutmu begitu, karena aku sama sekali tidak mengetahui siapa dan dimana dirimu, hingga saat ini

 

Ya…takdirku,..izinkan aku memanggilmu demikian…karena engkau adalah harapan, keinginan, dan asaku dimasa depan

 

Takdirku…karena kau kutunggu setiap waktu

Takdirku…karena kuingin hanya engkau, yang pertama, terakhir dan satu-satunya yang mengisi masa depanku, mendampingiku, dan membimbingku menuju jannahNya, dan ridho Rabb kita…

Takdirku…takdirku…

 

Takdirku…aku ingin bercerita banyak sekali hari ini…

Aku ingin bercerita tentang kegundahanku,..

Tentang perasaan bahagia dalam menunggumu…

Tentang rindunya aku pada pertemuan kita

Tentang panjangnya waktu yang kulalui untuk menjadi bagian dari kehidupanmu

 

Aku juga ingin bercerita takdirku…

Tentang hujan yang selalu turun tiap malam di Banda Aceh, walaupun katanya harusnya masih musim kemarau

Tentang teriknya siang yang kulalui di Banda Aceh, seakan tidak pernah ada hujan di tiap malamnya

Tentang dinginnya AC kantor…

Tentang jalan yang kulalui tiap pagi dan sore dari kosku ke kantor

 

Takdirku….

Taukah kau, disini aku selalu menunggumu…merinduimu…dan mengukur waktu pertemuan kita…

Takdirku…kuhabiskan ujung-ujung malam mengiba padaNya…

Untuk memberimu kesehatan, ketegaran, dan kekuatan dalam mendakwahkan syari’atNya

Takdirku…kurindui hari-hari depan bersamamu…

Takdirku…kubeli buku-buku tentang Bunda, tentang anak, dan segala sesuatu yang mengingatkanku pada amanah yang Insya Allah suatu saat akan diberikan pada kita

 

Takdirku…sedang apa kau disana???

Tidakkah kau rindui saat-saat kita berjumpa??

Tidakkah kau ingini menengok salah satu rusukmu disini???

Aku tahu takdirku…perasaanmu sama dengan perasaanku…

Aku tidak ingin membebanimu,…

Maka kupersiapkan diri takdirku…

Aku tidak ingin mendapati diri malu dihadapanmu saat kita dipertemukan…

Apalagi takdirku?? Apalagi yang harus kusiapkan untuk menyambutmu??

Oleh: kaktuspelangi | 6 Juni 2008

Baiturrahman Yang Tak Pernah Sepi

Tentram…itu hal yang pertama kali saya rasakan begitu menginjakkan kaki pertama kali di pelataran Baiturrahman-masjid Agungnya Banda Aceh, bukan Masjid Agung, Masjid Rayeuk…(salah gak si nulisnya?)-..ketentraman itu bukan hanya saya rasakan dari banyaknya tanaman yang menghiasi pelatarannya. Tapi juga melihat antusiasme pengunjung masjid tersebut.

Selalu ada pengunjung di masjid tersebut. Ada yang sekadar melihat masjid kebanggaan Aceh ini, atau yang memang benar-benar ingin menunaikan shalat berjama’ah disana. Sangat menyenangkan melihat orang berbondong-bondong untuk mendapatkan jama’ah di masjid ini. Saat adzan dikumandangkan…gak peduli pria, wanita, anak-anak, remaja berlari-lari menuju tempat wudhu untuk dapat shalat jama’ah. Bahkan ada sebagian yang sudah membaca Alqur’an sambil menunggu adzan dan shalat jama’ah didirikan.

saat adzan dikumandangkan juga ada security atau apa namanya saya gak tau yang memperingatkan orang disekitar masjid untuk segera mengambil wudhu. Abang-abang ini menggunakan pengeras suara.  Dan suasana ini selalu terjadi tiap waktu shalat. Hm…pemandangan yang langka, jarang sekali saya saksikan hal seperti ini dimasjid-masjid yang saya kunjungi sebelumnya.

Oleh: kaktuspelangi | 31 Mei 2008

Adakah Kesedihan Ini…

Adakah kesedihan punya mata?

Atau kesedihan adalah pisau tumpul berkarat…

Yang menyayat ketebalan dinding hati yang tak seberapa

 

Adakah kesedihan menyimpan makna?

Atau hanyakah sebuah fase kehidupan untuk lebih dewasa?

 

Adakah kesedihan berarti muramnya durja?

Atau akankah berlalu seiring hembusan angin yang melintas??

 

Kesedihan ini tak mampu kusampaikan….

Kesedihan ini tak pantas aku bagi…

Kesedihan ini tak kuasa kubahasakan…

Kesedihan ini tak pantas aku tangisi…

 

Lalu aku harus bagaimana???

Haruskah aku meraung dan merana??

Berkata pada sang terdakwa…”Mengapa tega?”

Atau aku harus pasrah da lunglai didepannya??

Oleh: kaktuspelangi | 28 Mei 2008

Banda Aceh Dalam Peta Pemikiran Pendatang

Tepat tiga minggu saya berada disebuah kota yang berada diujung pulau Sumatera, Banda Aceh tepatnya. Hm…Banda Aceh…sebuah kota kecil untuk ukuran ibu kota sebuah propinsi-menurut saya-. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Aceh. Lumayan susah untuk dikuasai, apalagi saya, yang berasal dari pulau jawa, dan sudah hampir 23 tahun hidup saya habiskan di pulau Jawa.

Saya datang ke Banda Aceh dengan perasaan was-was, karena tak ada satupun keluarga. Saya hanya mengandalkan keberadaan kakak-kakak tingkat (kalau disini nyebutnya kakak leting) saya yang sudah lebih dahulu bekerja disini. Dan ternyata, dari pengalaman saya datang ke Banda pertama kali, orang-orang yang saya kenal sangat ramah.

Dimulai dari temen-teman kantor, teman-teman kos yang baru, bahkan pemilik kos dimana saya tinggal. Kaum wanita Aceh, khususnya Banda Aceh, yang saya temui rata-rata cantik, jadi minder…hehehehe… Mereka rata-rata mempunyai wajah semi Arab dengan kulit putih bening. Kalo untuk kaum Adam, mereka juga punya wajah sedikit Arab, dengan kulit gelap.

 Di Banda Aceh ini banyak sekali kafe-kafe (warung tenda menurut saya) yang berjejer di pinggir jalan besar. Kafe-kafe ini menjajakan berbagai makanan dan minuman, dari mulai yang khas Aceh sampai luar negri. Namun Banda Aceh lebih terkenal lagi dengan warung kopi-nya. Banyak sekali warung kopi disini, bahkan bisa dikatakan, tiap 20 rumah tempat tinggal terdapat 1 warung kopi. Karena memang sebagian besar warga Aceh suka mengkonsumsi kopi. Aceh juga terkenal dengan produk kopinya yang telah diakui kualitasnya, yaitu kopi Gayo.

Saat malam menjelang, Banda Aceh akan lebih terlihat geliatnya dengan banyaknya warung-warung tenda yang berjajar disepanjang jalan besar. Warung-warung tenda ini menyajikan makanan-makanan siap saji seperti burger, roti sosis dan makanan kecil seperti kentang goreng, dan sebagainya.

Untuk tempat wisata, di Banda Aceh saya baru mengunjungi panta-pantainya, ada tiga pantai yang sudah saya kunjungi, yakni Lokhnga, Ulelee dan Ujong Batee. Semuanya indah, karena masih bersih. Perjalanan menuju pantai, saya melihat tanda-tanda kerusakan yang ditinggalkan tsunami pada 2004 silam. Dalam hati masi berdenyar nyeri, waktu melihat pemakaman umum yang berada di Ulelee. Begitu dahsyat kerusakan yang ditimbulkan tsunami ini, baik secara material maupun psikologis bagi masyarakat Aceh.

« Newer Posts

Kategori