Kembali aku ingin bercerita tentang Aceh.
Kunikmati hari-hariku di Aceh ini, karena aku yakin suatu saat aku akan meninggalkannya, jadi aku ingin belajar banyak disini. Aku ingin tau banyak apa-apa yang ada disini, di Aceh ini.
Satu tradisi baru aku pelajari menjelang Romadhon ini. Namanya ‘megang’, aku suka bercanda dengan teman kosku jika ditanya ‘dek, besok megang nggak?’, temenku akan langsung memegang bahuku dan berkata ‘ni saya lagi megang’, hahahahaha… Pertanyaan ini tentu hanya ditujukan pada kami, para new comers di Aceh, untuk orang yang sudah lama tinggal di Aceh, pasti udah tau apa itu megang.
Megang itu istilah untuk menyambut datangnya romadhon. Hari megang ini jatuh pas H-1 Romadhon. Setiap rumah tangga memasak lebih banyak dari biasanya pada hari megang ini. Macam-macam masakan yang dibuat, tapi lebih banyak rumah tangga membuat olahan daging pada hari megang, untuk kemudian dimakan bersama. Bisa juga mengundang orang lain untuk makan bersama dirumah. Kami sebagai perantau tentu saja berperan sebagai orang yang diundang, bukan yang mengundang, karena kami juga kebetulan hanya anak kos, hehehehehehe…
Karena tradisi ini, biasanya harga daging sapi jadi mahal sebelum romadhon, bahkan untuk tahun ini mencapai Rp.120.000,-/kg. Wowwww…!!harga yang fantastis tentu saja, mengingat daging yang diperjualbelikan adalah daging lokal. Konon katanya harga daging di Aceh pada hari megang ini adalah harga daging termahal didunia, hmmmm…ck…ck…ck… Selain berimbas pada harga daging, tradisi ini juga berimbas pada harga bahan makanan lain. Seorang teman berkata ‘bahkan bayam yang biasanya cuma Rp.2000,-/ikat menjadi Rp.5000,-/ikat pada saat megang’…hmmmmmmmmmmm…
Tradisi ini dilakukan oleh semua kalangan masyarakat di Aceh, tidak hanya kalangan ‘menengah keatas’. Jadi bisa dibayangkan perjuangan kalangan ‘menengah kebawah’ untuk mendapatkan daging pada hari megang itu. Tapi yang namanya tradisi, ada atau gak ada dana, tetep harus diada-adain, hehehehe… Untuk yang bener-bener gak mampu menjangkau harga daging pada hari itu, biasanya mereka memilih untuk menyiasatinya dengan memasak lebih banyak dari biasanya.
Namun apapun dampak dari tradisi ini, patut dihargai bahwa inti dari tradisi ini adalah kesenangan dan kegembiraan masyarakat dalam menyambut romadhon. Mungkin tiap daerah punya tradisi dan kebiasaan yang berbeda dalam menyambut Romadhon. Namun alangkah baiknya, jika kegembiraan ini bukan hanya bersifat fisik dan hura-hura, tapi lebih pada kegembiraan hakiki. Kegembiraan karena kita berjumpa bulan yang penuh rohmah, maghfiroh. Bukan hanya sekedar ‘ancang-ancang’ karena besoknya puasa, harus menahan makan minum dari terbit fajar hingga terbenam matahari maka puas-puasin makan dulu. Semoga kita termasuk orang yang bijak dalam mengikuti tradisi.